UGR Tangkap Pesan Petani Delta Sungai Mekong Vietnam untuk Indonesia

UGR Tangkap Pesan Petani Delta Sungai Mekong Vietnam untuk Indonesia

Pada tanggal 19 sampai 22 Oktober 2018, Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR) Dr.H.Moch. Ali bin Dachlan, MM dan tim melakukan kunjungan resmi ke Hoci min city, Vietnam.  Kehadiran tim ke Negara ini dalam rangka meneliti konsep pertanian yang ada disana.  Negara Vietnam dipilih menjadi lokasi studi banding bukan tanpa alasan.

Melainkan banyak pertimbangan, diantaranya karena melihat perbandingan konsep pertanian dan pendapatan antar Negara Indonesia dan Vietnam dari segi pertanian. Vietnam merupakan negara pemasok beras terbesar di ASEAN dan Indonesia merupakan salah satu langganan impor beras dari Vietnam.

Faktor diatas merupakan salah satu issue mengapa rektor UGR dan para tim ingin meninjau secara langsung ke Vietnam.

Penduduk Indonesia sebagian besar bekerja sebagai seorang petani. Secara geografis letak Indonesia sangat menguntungkan dalam hal kemaritiman dan pertanian. Namun yang sangat disayangkan adalah system pengelolaan yang kurang baik, dan kurangnya keseriusan pemerintah dalam meningkatkan sumber daya pangan sehingga menimbulkan regulasi pertanian terbengkalai dan tertimbun oleh beras-beras impor. Indonesia yang memiliki julukan sebagai sebuah negara agraris seharusnya mampu menjadi salah satu pengimpor terbesar di ASEAN atau dunia. Tetapi data menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara ke-10 pengimpor beras terbesar di dunia.

Institute for Developement of Economic (INDEF) menilai sektor pertanian Indonesia sudah sangat jauh tertinggal dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, padahal luas antara ke-2 negara tersebut lebih sempit dari luas negara Indonesia. Berdasarkan data World Stock Export, dari 15 negara eksportir pangan, Thailand berada di peringkat ke-2 di bawah Vietnam. Dari data di atas, ada baiknya Indonesia menoleh kepada Vietnam yang semula menjadi negara impor berubah menjadi eksportir terbesar. Ironis sekali memang sebagai negara pertanian, untuk bahan “pangan” saja Indonesia harus mengimpor beras keluar.

Transformasi dari pengimpor beras menjadi pengeskpor beras terbesar di dunia menjadikan Vietnam sorotan dunia dalam hal pertanian. Banyak yang ingin tahu rahasia kesuksesan pemerintah dan petani Vietnam yang mampu mencapai target tersebut. Sector pertanian merupakan komoditas strategis yang konsisten dijalankan oleh pemerintah Vietnam dan hal itu pun tercermin dari kebijakan pemerintah Vietnam yang pro terhadap petani bahwa untuk mendorong produksi beras, Pemerintah Vietnam menjamin petani mendapat untung 30 persen di hitung dari total biaya.

Kebijakan Pemerintah dan Teknik Ekologis, Rahasia Sukses Petani Vietnam.

Dalam kunjungannya, rektor universitas gunung rinjani mewawancarai beberapa petani di salah satu desa di wilayah Sungai Makong. Dari hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola tanam pertanian masyarakat disana menggunakan teknik ekologi.

Dilansir dari agromedia.net, pertanian tekno-ekologis merupakan model pertanian yang dikembangkan dengan memadukan model “pertanian ekologis” dengan pertanian berteknologi maju yang selaras dengan kondisi alam atau ekosistem setempat.

Model pertanian ini dapat mencapai target produktivitas secara memuaskan pada komoditas tertentu, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Sistem ini lebih efisien dan berkualitas dengan risiko yang lebih kecil dan ramah lingkungan.

Informasi dari Agromedia.net, senada dengan apa yang diperoleh dari Vietnam bahwa Ada beberapa penerapan model pertanian tekno-ekologis yang bisa diterapkan di Indonesia, yang bisa maksimal diterapkan tentu harus didukung dengan kebijakan pemerintah, diantaranya ;

  • 1.Model pertanian tekno-ekologis di ekosistem lahan kering beriklim basah,
  • 2.Tekno-ekologis di lahan kering beriklim kering,
  • 3.Tekno-ekologis di ekosistem sawah,
  • 4.Tekno-ekologis di ekosistem kawasan urban
  • 5.Tekno-ekologis di ekosistem pantai.
  • 6.Tekno-ekologis di ekosistem lahan kering beriklim basah

Dari sekian teknik tersebut, tentu saja membutuhkan penelitian dan tindak lanjut agar negera Indonesia yang disebut sebagai negara agraris ini bisa lebih hasil pertaniannya dibandingkan vietnam. Semoga Universitas Gunung Rinjani bisa berperan lebih banyak untuk ikut mendorong kebijakan terkait melalui Tri Darma Perguruan Tinggi.

No Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.